Gresik, metropantura.id
Di tengah hiruk-pikuk zaman digital, seorang pria paruh baya di Gresik memilih jalan sunyi dalam merawat kualitas pendidikan. Namanya Eddy Susanto, pria kelahiran Surabaya 13 Mei 1963 yang kini tinggal di Desa Yosowilangun, Kabupaten Gresik.
Usai pensiun dari petinggi dunia perbankan, Eddy tidak berhenti berkarya. Justru, ia memulai perjuangan baru untuk menyelamatkan generasi muda dari kecanduan gawai melalui pelajaran matematika.
“Awalnya saya prihatin. Banyak anak-anak SD dan SMP nongkrong di warung kopi, pegang HP, main game online sampai lupa waktu,” cerita Eddy saat ditemui di rumahnya yang kini juga berfungsi sebagai tempat les, Selasa (10/6/2025).
Berbekal ilmu yang ia pelajari dari program pascasarjana di UPN Veteran Surabaya, serta pengalaman mengajar sejak 2013, Eddy membentuk kelas les gratis bersama Pemdes Yosowilangon, Manyar, Gresik.
Ia mengajarkan Matematika Gasing (Gampang, Asyik, dan Menyenangkan), metode hitung cepat yang ia pelajari langsung selama empat semester di BSD, Jakarta, di bawah bimbingan Prof. Yohanes Surya.
“Kalau anak-anak itu dilatih otaknya lewat matematika, perlahan mereka bisa lepas dari candu main HP. Saya sudah buktikan sendiri,” ujarnya.
Lebih dari sekadar hitung-menghitung, Eddy menegaskan bahwa matematika adalah fondasi dari pelajaran lain.
“Matematika itu dasar dari sains, ekonomi, bahkan logika dalam bahasa. Kalau anak sudah kuat di matematika, pelajaran lain akan lebih mudah dipahami. Mereka jadi terbiasa berpikir sistematis dan tidak mudah menyerah dalam menyelesaikan soal atau masalah,” jelas Eddy.
Metode yang diterapkan Eddy bukan main-main. Tak sedikit anak didiknya yang mencetak prestasi. Dua di antaranya, siswa tingkat SD didikannya bernama Barokha (Oka) dan Regina (Rere), berhasil lolos Olimpiade Matematika tingkat provinsi. Bahkan, Rere menembus tingkat nasional.
“Anak-anak ini sebelumnya biasa saja, tapi potensinya luar biasa. Yang penting, mereka dikasih pendekatan yang pas dan tidak ditekan,” kata Eddy.

Eddy menambahkan, sistem Gasing yang ia terapkan membuat matematika tidak lagi menyeramkan. Justru jadi menyenangkan.
“Saya fokus tatap muka, karena langsung kelihatan anak-anak ngerti atau tidak. Saya juga bahas soal pelajaran sekolah dan olimpiade,” tambahnya.
Di usia senjanya, Eddy tetap semangat mengajar. Ia percaya, anak-anak ini adalah aset bangsa.
“Tidak ada anak yang bodoh di negeri ini. Yang ada, mereka belum ketemu guru dan sistem belajar yang tepat,” terangnya.
Namun bukan tanpa tantangan. Salah satu hal tersulit bagi Eddy adalah saat harus menangani anak-anak berkebutuhan khusus.
“Saya belum punya kapasitas untuk itu. Tapi saya tetap berusaha semampunya,” katanya.
Soal biaya dan fasilitas, Eddy tak mengeluh. Ia justru mendapat banyak dukungan dari para orang tua murid. Bahkan, jumlah peserta lesnya kini melebihi kuota yang tersedia di Kelurahan Yosowilangun.
Melihat tingginya antusiasme, Eddy kini tengah merancang program home schooling berbasis paket A, B, dan C dengan biaya terjangkau di tempat tinggalnya di Jalan Bondowoso, GKB, Yosowilangun, Manyar, Gresik.
“Pendidikan itu mahal, tapi jangan sampai anak-anak dari keluarga tak mampu jadi korban. Saya ingin hadirkan solusi,” ujar Eddy penuh tekad.
Eddy Susanto bukan orang biasa. Di usianya yang sudah menginjak 61 tahun, ia tetap aktif mengajar di UPN Veteran Surabaya. Ia juga ayah dari empat anak yang semuanya telah menyelesaikan pendidikan tinggi.

Kini, lewat bimbingan les matematika di rumahnya, ia menjelma menjadi guru, motivator, sekaligus pahlawan kecil di kampungnya.
Sosok yang yakin bahwa masa depan bisa diselamatkan, asalkan ada niat tulus dan langkah nyata.
“Anak-anak itu penerus kita. Mereka harus cerdas, dan bisa berhitung. Kalau sekarang kita diam, siapa yang akan membimbing mereka?” pungkasnya.(Joe)

























