Bojonegoro, metropantura.id
Di balik semangat gotong royong merenovasi Pesarean Mbah Buyut di Desa Sarangan, Kecamatan Kanor Kabupaten Bojonegoro, terdapat sosok Endang Suwarni, seorang janda yang sejak awal aktif memberikan dukungan. Di tengah keterbatasannya, ia terus menyumbangkan tenaga, material, hingga dana demi membantu perbaikan makam sesepuh desa yang menjadi bagian dari sejarah masyarakat setempat.
Tak hanya itu, perempuan kelahiran Magetan tersebut juga berinisiatif menyiapkan tumpeng untuk selamatan sebelum konstruksi kuda-kuda atap dipasang. Baginya, doa bersama merupakan wujud rasa syukur sekaligus permohonan keselamatan agar seluruh proses renovasi berjalan lancar.
Usulan itu disampaikan Endang kepada para relawan sesaat sebelum pekerjaan dimulai. Ia meminta agar seluruh pekerja terlebih dahulu berkumpul menggelar selamatan sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi yang telah lama hidup di tengah masyarakat Jawa.
“Tumpengnya ambil saja di rumah saya. Sebelum kayu dinaikkan, alangkah baiknya kita berdoa bersama dulu agar semua pekerjaan diberi kelancaran dan keselamatan,” ujar Endang.
Usulan tersebut disambut baik oleh para relawan. Mereka kemudian berkumpul mengelilingi tumpeng sederhana yang disiapkan secara swadaya sebelum memanjatkan doa bersama. Seusai selamatan, para pekerja mulai menaikkan konstruksi kuda-kuda atap sebagai tanda dimulainya proses renovasi.
Selain bergotong royong mengganti konstruksi kayu yang telah lapuk, para relawan juga membersihkan area pesarean, membuka akses jalan menuju lokasi, serta menyiapkan material berupa pasir, batu kumbung, dan kayu agar pekerjaan dapat berjalan lebih efektif.
Renovasi Pesarean Mbah Buyut dikerjakan secara swadaya oleh masyarakat, para pemuda Desa Sarangan, serta anggota Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Rayon Sarangan. Seluruh biaya berasal dari iuran sukarela warga yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian makam sesepuh desa.
Bagi Endang, menjaga Pesarean Mbah Buyut bukan sekadar memperbaiki bangunan yang telah lapuk dimakan usia. Menurutnya, makam tersebut merupakan bagian dari sejarah desa yang harus dirawat bersama agar nilai-nilai penghormatan kepada leluhur dan semangat gotong royong tetap hidup di tengah masyarakat.
Semangat yang ditunjukkan Endang Suwarni menjadi gambaran bahwa pelestarian warisan budaya tidak selalu lahir dari kemampuan materi yang besar. Kepedulian, keikhlasan berbagi, dan kemauan untuk ikut terlibat justru menjadi fondasi utama yang menggerakkan masyarakat menjaga peninggalan leluhur bagi generasi yang akan datang. (*)

























