Gresik, metropantura.id
Bantuan bedah rumah tak layak huni (RTLH) untuk warga miskin di Desa Sumberwaru, Kecamatan Wringinanom Gresik diduga disunat. LSM Front Pembela Suara Rakyat (FPSR) ancam akan melaporkan.
Hal tersebut disampaikan oleh Ketua LSM Front Pembela Suara Rakyat (FPSR) Aris Gunawan. Pihaknya mengatakan, terkait pemotongan bantuan bedah RTLH bahkan dirinya telah memeriksa secara langsung kondisi material bangunan dilapangan.
“Sebelumnya diwaduli masyarakat, ketika dicek kok pecah dan patah, ini ya limbah bata ringan,” katanya.
Melalui progam ini, kata Aris sebenarnya diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup para penerima bantuan dengan memiliki rumah yang lebih layak. Namun realisasi progam bedah rumah dikeluhkan penerima bantuan.
Tidak hanya itu, Aris juga mengumpulkan beberapa informasi terkait dugaan material bangunan yang digunakan untuk proyek bedah rumah tersebut.
“Kami cek ke lokasi dan material bangunan yang digunakan. Kuat dugaan, material bangunan seperti batu bata ringan itu kualitasnya BS atau kw 3. Artinya, kualitasnya sangat rendah dan jika tetap dipasang, akan struktur bangunannya rawan ambruk,” ujar Aris.
Menurut Aris, dalam spesifikasi, harusnya batu bata yang digunakan ialah kw1 yang harganya per kubik mencapai Rp 500 Ribu. Nyatanya, bata yang digunakan spesifikasinya rendan dan diduga kw3.
“Kami mengendus adanya dugaan mark up dalam proyek bedah dan renovasi rumah ini. Selain bata, harga besi juga tidak wajar karena jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan harga di toko bangunan,” ungkapnya.
Untuk itu, Aris menyatakan akan melaporkan dengan melakukan pengaduan masyarakat (Dumas) karena diduga ada penyelewengan anggaran.
“Selain bedah rumah ini, kami juga akan laporkan dugaan penyelewengan anggaran pavingisasi dan beberapa titik perbaikan di Desa Sumberwaru tahun 2021,” ujarnya menaggapi bantuan bedah rumah warga miskin di Gresik diduga disunat.(red).

























